Apakah Investasi Saham Masih Masuk Akal di 2026? Ini Perhitungan Jujurnya

Crevalen Crevalen
7 menit baca
Apakah Investasi Saham Masih Masuk Akal di 2026? Ini Perhitungan Jujurnya

Pagi ini, saya duduk di depan laptop dengan secangkir kopi yang sudah dingin, menatap layar RTI Business yang didominasi warna merah.

Jujur saja, ada rasa sesak yang tipis setiap kali melihat angka portofolio menyusut. Padahal, saya sudah berkecimpung di dunia ini lebih dari lima tahun. Saya sudah melewati fase euforia 2021, hantaman inflasi pasca-pandemi, hingga dinamika politik yang menguras emosi di 2024 kemarin.

Tahun 2026 ini rasanya beda. Banyak teman seangkatan saya para pejuang cuan yang dulu sangat vokal di grup WhatsApp kini mulai diam. Ada yang pindah ke instrumen deposito karena trauma, ada yang "nyangkut" dan memilih jadi investor pasif karena terpaksa (alias holding until death).

Lalu muncul pertanyaan besar yang mungkin juga sedang menghantui Anda: "Masih masuk akal nggak sih main saham sekarang?"

Portofolio Berdarah dan Rasa Ingin Menyerah

Tiga tahun lalu, saya merasa paling pintar sedunia. Saham apa pun yang saya sentuh rasanya jadi emas. Tapi pasar punya cara yang kejam untuk merendahkan hati seseorang. Saya pernah kehilangan hampir 30% modal di satu sektor saja karena terlalu percaya diri dengan "analisis" yang ternyata cuma luapan emosi.

Masalah utama yang saya lihat pada kita orang-orang di usia 25 sampai 45 tahun adalah kita terlalu sering membandingkan nasib dengan tangkapan layar keuntungan orang lain di media sosial. Kita melihat mereka "cuan meler," sementara kita terjebak di saham blue chip yang pergerakannya lebih lambat dari siput.

Kita merasa ketinggalan kereta. Akhirnya, kita mengambil risiko yang tidak masuk akal. Kita beli saham gorengan dengan uang sekolah anak atau uang cicilan rumah. Begitu harganya anjlok, dunia rasanya mau kiamat. Ketakutan inilah yang membuat banyak dari kita akhirnya berhenti tepat sebelum pasar kembali pulih.

Angka Tak Pernah Berbohong: Simulasi Realistis 2026

Mari kita bicara data, tapi jangan pusing dulu. Saya buatkan simulasi sederhana yang sering saya pakai untuk menenangkan diri sendiri (dan mungkin berguna buat Anda).

Katakanlah di tahun 2026 ini inflasi tahunan kita ada di angka 4–5%. Kalau uang Anda cuma "parkir" di tabungan biasa dengan bunga mendekati nol, secara teknis uang Anda sedang dimakan rayap secara halus. Nilai belinya berkurang setiap hari.

Instrumen

Potensi Return (Net)

Risiko

Catatan Jujur

Tabungan/Giro

-4% (Riil)

Sangat Rendah

Uang Anda pasti habis pelan-pelan.

Deposito

1-2% (Riil)

Rendah

Cuma cukup buat "napas," bukan buat kaya.

Saham (Kinerja Baik)

8-12% (Riil)

Tinggi

Ada potensi pertumbuhan, tapi siap mental nggak?

Saham masih masuk akal kalau tujuan Anda adalah mengalahkan inflasi dalam jangka panjang. Tapi kalau tujuannya adalah "ingin kaya mendadak dalam 3 bulan agar bisa resign," saham di 2026 adalah tempat yang paling tidak masuk akal untuk Anda.

Kenapa Banyak dari Kita Gagal di Saham?

Saya melihat pola yang sama berulang kali (dan saya juga pernah melakukannya). Kesalahan paling fatal bukanlah salah pilih saham, tapi salah ekspektasi.

  1. Mentalitas Penjudi: Kita sering memperlakukan bursa saham seperti kasino. Kita masuk saat ramai, lalu panik saat sepi.

  2. Alergi dengan Dividen: Banyak investor muda meremehkan dividen 5%. Padahal, di tahun-tahun sulit seperti sekarang, dividen adalah satu-satunya arus kas yang nyata ketika harga saham sedang stagnan.

  3. Terlalu Banyak Mendengar "Bisikan": Kita lebih percaya rekomendasi anonim di grup Telegram daripada laporan keuangan perusahaan yang jelas-jelas bisa kita baca sendiri.

  4. Lupa Diversifikasi: Dulu saya pernah menaruh 80% uang saya di satu saham "jagoan." Begitu perusahaan itu terkena skandal, saya hampir kehilangan segalanya.

Analisis Jujur: Sisi Gelap dan Terang Saham 2026

Di 2026, ekonomi global masih mencari keseimbangan baru. Suku bunga mungkin tidak serendah dulu, dan daya beli masyarakat kita sedang diuji.

Kekurangannya: Pasar saham sekarang jauh lebih sensitif. Berita kecil di luar negeri bisa membuat IHSG memerah seharian. Likuiditas juga tidak segila dulu. Mencari saham yang bisa naik 100% dalam sekejap sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sangat melelahkan secara mental jika Anda memantau layar setiap jam.

Kelebihannya: Justru di saat banyak orang takut, valuasi banyak perusahaan bagus sedang murah-murahnya. Kalau Anda punya kesabaran, Anda sedang membeli masa depan dengan harga diskon. Perusahaan-perusahaan perbankan besar di Indonesia masih sangat sehat. Mereka tetap mencetak laba triliunan rupiah meskipun kita sedang mengeluh di media sosial.

Solusi Realistis: Bagaimana Saya Melakukannya Sekarang?

Saya tidak lagi mencoba menjadi trader hebat yang bisa menebak arah angin. Saya sudah terlalu tua untuk stres setiap hari. Inilah cara saya bertahan dan tetap cuan secara masuk akal:

  • Atur Napas (Arus Kas): Saya pastikan dana darurat aman dulu. Jangan pernah beli saham pakai uang yang akan Anda pakai dalam 1-2 tahun ke depan. Itu bunuh diri finansial.

  • Fokus pada Dividen Yield: Saya mencari perusahaan yang rajin bagi-bagi keuntungan. Setidaknya, kalau harga sahamnya tidak naik, saya tetap dapat "uang jajan" yang lebih tinggi dari bunga deposito.

  • Cicil secara Boring (Rutin): Saya tidak lagi mencoba timing the market. Saya beli sedikit demi sedikit setiap bulan. Kalau harga turun, saya senang karena dapat unit lebih banyak. Kalau harga naik, saya senang karena aset saya bertumbuh.

  • Batasi Portofolio: Saya hanya pegang 5 sampai 7 perusahaan yang benar-benar saya mengerti bisnisnya. Saya tahu mereka jualan apa dan siapa direkturnya.

Kemarin, Kakak (Valerie) sempat tanya ke saya, "Abang, apa nggak mending uangnya ditaruh di emas aja semua?" Saya jawab jujur, emas itu pelindung nilai, tapi saham itu mesin pertumbuhan. Kita butuh keduanya. Saya ingin Adek (Aletta) nanti punya dana pendidikan yang bertumbuh lebih cepat daripada kenaikan biaya kuliah yang gila-gilaan itu. Itu alasan kuat saya tetap bertahan di sini.

Kesimpulan: Jangan Jadi Korban FOMO Lagi

Jadi, apakah investasi saham masih masuk akal di 2026?

Jawabannya: Ya, tapi hanya untuk Anda yang sudah selesai dengan urusan ego.

Kalau Anda masih ingin pamer profit cepat, pasar saham tahun ini akan menghancurkan Anda. Tapi kalau Anda memandang saham sebagai cara untuk memiliki bagian dari perusahaan hebat di Indonesia, maka ini adalah waktu terbaik.

Jangan biarkan ketakutan orang lain mendikte keputusan finansial Anda. Tapi jangan juga biarkan keserakahan membutakan logika. Investasi itu bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling lama bertahan di dalam permainan.

Satu hal yang saya pelajari dengan cara yang menyakitkan: Pasar saham tidak peduli dengan perasaan kita. Ia hanya peduli pada nilai. Dan nilai selalu butuh waktu untuk muncul ke permukaan.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul di Kepala Kita

1. Modal saya cuma sedikit, apa tetap bisa terasa hasilnya di saham? Bisa, tapi jangan berharap jadi miliarder dalam semalam. Anggap saham sebagai tempat "menabung" yang lebih produktif. Fokuslah pada persentase pertumbuhan, bukan nominalnya dulu. Seiring bertambahnya penghasilan Anda, nominal itu akan mengikuti.

2. Apa nggak lebih aman investasi di kripto atau emas saja di 2026 ini? Aman itu relatif. Emas aman dari penurunan tajam, tapi tumbuhnya lambat. Kripto potensi tumbuhnya gila, tapi risikonya bisa bikin serangan jantung. Saham berada di tengah-tengah. Yang terbaik adalah bagi porsinya, jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.

3. Gimana cara tahu sebuah saham itu "murah" atau cuma "murahan"? Lihat labanya. Kalau perusahaannya merugi terus tapi harga sahamnya naik, itu biasanya "murahan" (spekulasi). Kalau perusahaannya laba terus, rajin bagi dividen, tapi harganya turun karena sentimen pasar, itu namanya "murah" (peluang).

4. Saya sudah telanjur nyangkut dalam, apakah harus cut loss? Tanya diri sendiri: "Kalau hari ini saya punya uang tunai, apakah saya mau beli saham ini di harga sekarang?" Kalau jawabannya "nggak sudi," berarti saatnya cut loss dan pindah ke aset yang lebih menjanjikan. Jangan memelihara bangkai karena sayang modal.

5. Kapan waktu terbaik buat mulai lagi di 2026? Kemarin adalah waktu terbaik. Hari ini adalah waktu terbaik kedua. Mulailah dengan nominal kecil yang kalau pun hilang (amit-amit), Anda masih bisa tidur nyenyak dan tetap bisa makan enak bersama keluarga.

Apakah Anda punya pengalaman pahit atau manis di pasar saham tahun ini? Mari kita diskusikan di kolom komentar secara jujur, siapa tahu pengalaman Anda bisa menyelamatkan portofolio orang lain.

0 Komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Blogarama - Blog Directory