Saya masih ingat betul kejadian di pertengahan 2023 lalu. Waktu itu, sebuah saham emiten teknologi lapis ketiga mendadak "terbang" 40% dalam seminggu. Di grup Telegram yang saya ikuti, narasinya seragam: "Ini bakal jadi raksasa baru, bandar lagi akumulasi, hajar mumpung murah!"
Saya yang saat itu merasa sudah cukup "berpengalaman" ternyata tetap saja terjebak euforia. Saya masukkan dana yang lumayan besar, lalu apa yang terjadi? Besoknya, saham itu ARB (Auto Reject Bawah) berjilid-jilid. Saya kehilangan hampir 30% nilai investasi hanya dalam tiga hari.
Sakitnya bukan cuma di dompet, tapi di harga diri. Saya merasa seperti keledai yang jatuh di lubang yang sama: kena "goreng".
Makanya, begitu mendengar kritik tajam Menteri Keuangan baru-baru ini di awal Januari 2026 soal ulah para "penggoreng saham" yang merusak ekosistem pasar modal kita, saya tidak kaget. Saya justru merasa lega sekaligus was-was. Apakah kritik ini akan benar-benar memberantas para mafia pasar, atau kita sebagai ritel yang justru makin terjepit aturan baru?
Penyakit "Cuan Cepat" yang Membunuh Logika
Masalah utama kita, para investor rentang usia 25–45 tahun, adalah tekanan hidup yang makin gila. Cicilan rumah di pinggiran Jakarta yang bunganya naik, biaya sekolah anak yang tidak masuk akal, sampai gaya hidup yang menuntut kita punya passive income instan.
Kondisi psikologis ini adalah makanan empuk buat para "penggoreng". Mereka tahu kita sedang butuh uang cepat. Mereka tahu kita malas baca laporan keuangan 200 halaman. Mereka tahu kita lebih percaya screenshot profit seorang influencer daripada grafik valuasi perusahaan.
Baca Juga:
Kritik Menkeu sebenarnya menyasar ke sana: pasar modal kita sudah jadi seperti kasino legal bagi sebagian orang. Saham yang fundamentalnya berantakan, utangnya menggunung, dan bisnisnya tidak jelas, harganya bisa naik ribuan persen hanya karena "bisikan" di grup berbayar. Ini bukan investasi, ini perampokan terencana.
Fakta Pahit di Balik Layar Pasar Modal 2026
Mari kita bicara data yang nyata terjadi di bursa kita saat ini. Berdasarkan laporan pengawasan pasar modal kuartal terakhir, ada pola yang sangat mengkhawatirkan:
Manipulasi Volume AI: Di tahun 2026 ini, para "penggoreng" tidak lagi pakai cara manual. Mereka menggunakan bot AI untuk melakukan wash sale (beli dan jual ke diri sendiri) dalam hitungan milidetik untuk menciptakan kesan saham itu likuid dan ramai.
Kesenjangan Valuasi: Ada setidaknya 15 emiten di papan pengembangan yang memiliki Price to Earnings Ratio (PER) di atas 500 kali, padahal laba operasionalnya negatif. Ini angka yang tidak masuk akal secara finansial manapun.
Sentimen Influencer Berbayar: Investigasi terbaru menunjukkan bahwa 60% rekomendasi saham di media sosial adalah pesanan dari pihak-pihak yang ingin melakukan exit strategy (jualan di harga atas).
Menkeu secara gamblang menyebut bahwa kalau ini dibiarkan, investor asing akan kabur karena menganggap bursa kita tidak kredibel. Jika asing kabur, indeks kita (IHSG) akan sulit tumbuh secara organik, dan kita semua termasuk Anda yang pegang saham blue chip akan kena imbasnya.
Analisis Jujur: Kenapa Kritik Ini Penting (dan Apa Risikonya)?
Saya melihat ada dua sisi mata uang dari ketegasan pemerintah saat ini. Kita harus jujur melihatnya secara objektif.
Kelebihannya: Jika pengawasan diperketat, bursa kita akan lebih bersih. Investor ritel pemula tidak akan mudah jadi "tumbal" bagi mereka yang punya modal tak terbatas. Kepercayaan publik bisa kembali, dan saham-saham perusahaan bagus yang selama ini "tidur" karena kalah pamor dari saham gorengan, akhirnya bisa punya kesempatan untuk dihargai secara layak.
Kekurangannya: Risiko regulasi yang terlalu ketat biasanya bikin pasar jadi "kering" atau sepi. Kadang, batas antara "strategi bandar" dan "manipulasi pasar" itu sangat tipis. Kalau aturannya terlalu kaku, likuiditas bisa turun drastis. Bagi kita yang suka scalping (trading kilat), ini bisa jadi kabar buruk karena pergerakan harga tidak akan selincah dulu.
Kesalahan Umum yang Masih Saja Kita Lakukan
Kenapa "penggoreng" tetap laku? Karena kita sering melakukan kesalahan yang sama berulang kali:
Membeli karena Takut Ketinggalan (FOMO): Anda melihat saham naik 10% setiap hari selama 3 hari, lalu di hari ke-4 Anda baru masuk. Itu adalah saat di mana "penggoreng" sedang menyiapkan tombol "sell" masif.
Mengabaikan Arus Kas: Banyak yang beli saham karena katanya "proyeknya besar", tapi lupa cek apakah perusahaan punya uang tunai untuk bayar gaji karyawan. Di 2026, janji manis tidak bisa bayar utang bank.
Terlalu Percaya "Orang Dalam": Percayalah, kalau informasi itu benar-benar "orang dalam", dia tidak akan membagikannya kepada Anda secara gratis di grup Telegram.
Simulasi Sederhana: Katakanlah Saham X harganya Rp100. Valuasi wajarnya sebenarnya hanya Rp80. Si "penggoreng" menaikkan harga ke Rp200 dengan modal Rp10 miliar. Anda dan ribuan ritel lain masuk di harga Rp190 karena berharap ke Rp300. Begitu terkumpul dana ritel sebesar Rp20 miliar, si "penggoreng" langsung jualan habis-habisan. Harga jatuh ke Rp70 dalam sekejap. Siapa yang untung? Bukan Anda.
Solusi Realistis: Cara Bertahan di Pasar Modal yang "Lagi Dicuci"
Setelah kritik Menkeu ini, saya yakin akan ada banyak aksi bersih-bersih dari otoritas terkait. Bagaimana kita sebagai investor harus bersikap?
1. Kembali ke Dasar (Back to Basics) Mulai sekarang, luangkan waktu minimal 15 menit untuk melihat satu hal saja: Laba Bersih vs Arus Kas Operasional. Kalau labanya besar tapi uang tunainya tidak ada, kemungkinan besar itu manipulasi akuntansi. Jangan sentuh saham seperti itu, seberapa kencang pun orang mempromosikannya.
2. Batasi Alokasi "Uang Nakal" Kalau Anda memang suka tantangan dan ingin mencoba trading di saham-saham volatil, batasi maksimal 5–10% saja dari total portofolio. Anggap saja itu uang hiburan yang kalau hilang pun Anda tetap bisa tidur nyenyak dan makan enak. Sisa 90%-nya? Taruh di saham yang fundamentalnya bisa Anda jelaskan ke anak SD dengan mudah.
3. Manfaatkan Teknologi, Jangan Dimanfaatkan Di 2026, sudah banyak aplikasi yang menyediakan fitur screenining otomatis berdasarkan kesehatan finansial perusahaan. Gunakan itu. Jangan biarkan algoritma media sosial mendikte apa yang harus Anda beli hari ini.
4. Berhenti Mengikuti Influencer "Pom-pom" Filter siapa yang Anda ikuti. Ikuti mereka yang bicara soal risiko, bukan cuma soal potensi cuan. Mereka yang jujur biasanya akan terlihat membosankan, karena investasi yang benar memang seharusnya membosankan.
Refleksi Akhir: Bukan Tentang Seberapa Cepat, Tapi Seberapa Lama
Kritik Menteri Keuangan soal goreng-menggoreng saham ini adalah pengingat bahwa tidak ada makan siang gratis di pasar modal. Uang yang berpindah ke rekening seseorang, pasti berasal dari kantong orang lain yang kurang waspada.
Saya sudah pernah ada di posisi kehilangan uang banyak karena keserakahan. Rasanya pahit, dan saya tidak ingin Anda merasakannya. Investasi adalah lari maraton, bukan sprint 100 meter. Lebih baik tumbuh 15% konsisten setiap tahun daripada naik 100% dalam sebulan lalu hilang semuanya di bulan berikutnya.
Pasar modal Indonesia punya potensi besar untuk masa depan kita, tapi hanya jika kita investornya mulai dewasa dan berhenti mencari jalan pintas yang sebenarnya adalah jurang.
FAQ: Pertanyaan Jujur yang Sering Muncul
1. Apakah saham gorengan itu selalu ilegal? Secara teknis, memiliki saham kecil yang volatil tidak ilegal. Yang ilegal adalah ketika ada sekelompok orang secara sengaja menciptakan informasi palsu atau transaksi semu untuk memanipulasi harga demi keuntungan pribadi.
2. Gimana cara paling gampang bedain saham bagus dan saham gorengan? Cara paling instan: Lihat volume transaksinya. Kalau biasanya sepi (transaksi cuma ratusan juta) lalu mendadak jadi ratusan miliar tanpa ada berita aksi korporasi yang jelas, itu tanda-tanda dapur mulai mengepul.
3. Kalau saya sudah terlanjur "nyangkut" di saham gorengan, harus gimana? Jujur saja, ini pilihan pahit: Cut loss (jual rugi). Lebih baik sisa uang 50% Anda pindahkan ke aset yang sehat daripada menunggu di aset busuk yang mungkin tidak akan pernah kembali ke harga modal Anda, atau malah kena delisting (dihapus dari bursa).
4. Apakah kritik Menkeu ini bakal bikin saham turun semua? Jangka pendek mungkin ada kepanikan. Tapi jangka panjang, ini justru bagus. Uang akan mengalir ke perusahaan yang benar-benar produktif, bukan ke perusahaan "cangkang" yang hanya jualan mimpi.
5. Apa sektor yang paling aman dari manipulasi penggoreng saham? Biasanya sektor perbankan besar (Big Caps) dan konsumsi (Consumer Goods) yang kapitalisasinya jumbo. Menggoreng saham dengan nilai pasar ratusan triliun butuh uang yang terlalu banyak, jadi relatif lebih aman bagi investor konservatif.
Apakah Anda punya pengalaman pahit soal saham yang mendadak anjlok setelah dipuji-puji influencer? Atau Anda punya pandangan berbeda soal kritik Menkeu ini? Mari diskusikan di kolom komentar.
