Jika Anda menaruh uang sebesar Rp10 juta di atas meja pada pagi hari tanggal 1 Januari 2016, dan membiarkannya hingga hari ini, nilai uang tersebut mungkin masih Rp10 juta secara nominal. Namun, secara daya beli, uang itu telah tergerus drastis oleh inflasi.
Sekarang, bayangkan jika Rp10 juta tersebut Anda belikan emas batangan Antam, atau Anda belikan saham unggulan (Blue Chip), atau sekadar Anda taruh di deposito bank BUMN. Siapa pemenangnya setelah satu dekade penuh gejolak mulai dari perang dagang AS-China, pandemi COVID-19, hingga ketegangan geopolitik global 2024?
Benarkah saham selalu memberikan imbal hasil tertinggi dalam jangka panjang? Atau justru emas yang diam-diam mengalahkan segalanya?
Agar perbandingan ini adil (apple-to-apple) dan transparan, kami menggunakan parameter berikut:
Periode Analisis: 1 Januari 2016 – 31 Desember 2025 (Menggunakan data historis terverifikasi hingga Q4 2024 dan proyeksi konservatif untuk tahun penuh 2025).
Modal Awal: Simulasi lump sum (investasi sekali di awal) sebesar Rp10.000.000.
Instrumen yang Dibandingkan:
Saham: Diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai benchmark pasar.
Emas: Harga emas batangan (Logam Mulia Antam) per gram.
Deposito: Rata-rata suku bunga deposito 1 bulan bank umum (<i>roll-over</i> bunga berbunga).
SBN Ritel: Rata-rata kupon obligasi negara ritel (ORI/SBR) dengan asumsi reinvesment kupon.
Properti: Menggunakan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) dari Bank Indonesia.
Perhitungan: Kami menggunakan CAGR (Compound Annual Growth Rate) untuk melihat rata-rata pertumbuhan tahunan, serta memperhitungkan pajak final dan inflasi kumulatif untuk mendapatkan Real Return.
Bagi Anda yang ingin melihat hasil akhirnya secara langsung, berikut adalah tabel kinerja aset investasi Indonesia selama satu dekade terakhir.
Tabel Perbandingan Kinerja Aset (2016–2025)
Instrumen | Total Return (%) | CAGR (%) | Risiko (Volatilitas) | Likuiditas | Keterangan Utama |
Emas (LM) | +168% | 10,3% | Sedang | Tinggi | Safe haven unggul saat krisis & inflasi global. |
Saham (IHSG) | +72% | 5,6% | Tinggi | Tinggi | Tertahan pasca-COVID, performa sektoral timpang. |
SBN Ritel | +68% | 5,3% | Rendah | Sedang | Paling stabil, unggul di atas deposito. |
Deposito | +42% | 3,6% | Sangat Rendah | Tinggi | Kalah oleh inflasi riil, hanya penjaga nilai nominal. |
Properti (Hunian) | +28% | 2,5% | Rendah | Sangat Rendah | Stagnan (oversupply), belum termasuk hasil sewa. |
> Catatan: Angka di atas adalah estimasi rata-rata pasar setelah penyesuaian pajak (net). Kinerja individu bisa berbeda tergantung pemilihan saham spesifik atau lokasi properti.
Kesimpulan Awal: Secara mengejutkan bagi sebagian orang, Emas mencatatkan kinerja terbaik di periode ini, mengalahkan IHSG yang mengalami volatilitas tinggi dan pemulihan yang tidak merata pasca-pandemi.
Analisis Mendalam Per Instrumen
Mari kita bedah satu per satu mengapa angka-angka tersebut bisa terjadi.
1. Saham (IHSG): Dekade yang Penuh Tantangan
Selama periode 2016–2025, pasar saham Indonesia mengalami perjalanan roller coaster.
Awal Periode (2016-2019): IHSG tumbuh cukup solid, didorong oleh pembangunan infrastruktur masif.
The Great Crash (2020): Pandemi menghapus keuntungan 4 tahun dalam waktu 3 bulan. IHSG sempat menyentuh level 3.900-an.
The Rebound (2021-2022): Terjadi booming saham teknologi dan bank digital, serta rejeki nomplok komoditas (batu bara) yang mendorong indeks kembali ke 7.000-an.
Fase Normalisasi (2023-2025): Pasar bergerak cenderung sideways (mendatar) di level tinggi. Kenaikan suku bunga global (The Fed) membuat aliran dana asing keluar masuk dengan cepat.
Analisis Kritis: IHSG sebagai indeks mungkin hanya memberikan CAGR sekitar 5-6%. Namun, ini adalah agregat. Investor yang cerdik memilih saham perbankan Big Caps (seperti BBCA atau BBRI) mendapatkan return jauh di atas 100% (termasuk dividen). Sebaliknya, investor yang terjebak di saham teknologi pada pucuk 2021 mungkin mengalami kerugian hingga -70%.
Pelajaran: Di dekade ini, stock picking (memilih saham) jauh lebih krusial daripada sekadar mengikuti indeks.
2. Emas: Sang Juara "Defensif"
Siapa sangka logam kuning ini menjadi primadona? Kenaikan emas didorong oleh dua faktor utama yang terjadi bersamaan dalam dekade ini:
Ketidakpastian Global: Perang Rusia-Ukraina dan konflik Timur Tengah memicu permintaan aset aman (safe haven).
Pelemahan Nilai Tukar: Harga emas di Indonesia adalah fungsi dari harga emas dunia (USD) dan kurs Rupiah terhadap Dolar. Ketika Rupiah melemah dari kisaran Rp13.000 (2016) ke Rp16.000-an (2024/2025), harga emas Antam otomatis terdongkrak ganda.
Emas membuktikan dirinya bukan sekadar pelindung nilai, tapi juga aset pertumbuhan (growth asset) di kala ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja.
3. Deposito: "The Silent Loss"
Deposito sering dianggap investasi paling aman. Secara nominal, uang Anda bertambah. Namun, mari kita bicara data riil. Rata-rata bunga deposito bank umum berkisar 4-5% per tahun. Dikurangi pajak final 20%, hasil bersihnya hanya sekitar 3,2% - 4%. Sementara itu, inflasi gaya hidup (pendidikan, kesehatan, pangan) seringkali berada di atas 5%.
Artinya, menyimpan uang di deposito selama 10 tahun terakhir secara teknis membuat daya beli Anda menurun perlahan. Deposito di era ini berfungsi sebagai tempat parkir dana darurat (likuiditas), bukan alat melipatgandakan kekayaan.
4. SBN Ritel (ORI, SBR, Sukuk): Jalan Tengah Terbaik
Surat Berharga Negara (SBN) menjadi bintang baru bagi investor konservatif. Pemerintah Indonesia sangat agresif menerbitkan SBN Ritel dengan kupon yang menarik (seringkali di atas bunga deposito + pajak lebih rendah).
Keunggulan Pajak: Pajak bunga obligasi turun dari 15% menjadi 10% di tahun 2021. Ini memberikan boost signifikan pada hasil bersih investor.
SBN memberikan kepastian arus kas (cashflow) yang stabil di tengah volatilitas pasar saham. Bagi pensiunan atau investor moderat, SBN mengalahkan deposito telak dalam dekade ini.
5. Properti: Raksasa yang Tertidur
Data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga yang nyata sejak 2015.
Oversupply: Banyak apartemen dan perumahan kelas menengah-atas yang dibangun namun tingkat serapannya rendah.
Daya Beli: Kenaikan gaji rata-rata tidak secepat kenaikan harga properti di awal dekade, membuat permintaan melambat ("Generation Rent").
Investasi properti fisik selama 2016-2025 cenderung tidak likuid dan capital gain-nya minim. Keuntungan properti di era ini murni bergantung pada rental yield (uang sewa), bukan kenaikan harga tanah yang gila-gilaan seperti era 2010-2013. Jika Anda membeli properti di 2016 dan berharap jual untung besar di 2025, kemungkinan besar Anda kecewa setelah menghitung biaya notaris, pajak BPHTB, dan perawatan.
Siapa Paling Untung?
Mari kita visualisasikan. Jika 5 orang bersahabat masing-masing menempatkan Rp10.000.000 pada Januari 2016 di instrumen berbeda, inilah saldo mereka di akhir 2025:
Andi (Emas): Membeli ~18 gram emas.
Nilai Akhir: ± Rp26.800.000
Status: Pemenang mutlak.
Budi (Saham/Reksa Dana Saham): Mengikuti performa IHSG.
Nilai Akhir: ± Rp17.200.000
Status: Cukup baik, tapi bergejolak hebat.
Citra (SBN Ritel): Reinvestasi kupon terus menerus.
Nilai Akhir: ± Rp16.800.000
Status: Stabil, tidur nyenyak.
Dedi (Deposito): * Nilai Akhir: ± Rp14.200.000
Status: Terlihat untung, tapi nilai uangnya kecil.
Eka (Properti): Membeli tanah kavling kecil di pinggiran (simulasi indeks).
Nilai Akhir: ± Rp12.800.000 (Belum dipotong biaya jual).
Status: Paling rendah pertumbuhannya dalam siklus ini.
Angka di atas adalah Return Nominal. Namun, kita hidup di dunia nyata dengan inflasi. Akumulasi inflasi (CPI) di Indonesia dari 2016 hingga 2025 diperkirakan mencapai ~30-35%.
Artinya, untuk sekadar balik modal secara daya beli, uang Rp10 juta di tahun 2016 harus menjadi minimal Rp13.500.000 di tahun 2025.
Lihat kembali simulasi di atas:
Emas, Saham, dan SBN memberikan keuntungan nyata (Real Return Positif). Anda bertambah kaya.
Deposito hanya memberikan sedikit keuntungan di atas inflasi, nyaris impas.
Properti (tanpa sewa) berpotensi memberikan Real Return Negatif di banyak lokasi. Anda merasa aset naik harganya, tapi sebenarnya daya beli aset itu turun dibanding harga beras atau biaya kuliah.
Apa yang bisa kita pelajari dari data 10 tahun ini untuk strategi investasi ke depan?
Diversifikasi Bukan Basa-basi: Jika Anda menaruh 100% uang di saham pada 2019, Anda akan stres luar biasa di 2020. Jika Anda punya Emas saat itu, portofolio Anda terselamatkan. Kombinasi aset adalah kunci bertahan hidup.
"Cash is Trash" dalam Jangka Panjang: Memegang uang tunai atau deposito terlalu banyak adalah strategi yang buruk untuk jangka panjang karena gerusan inflasi.
Siklus Berputar: Properti sedang lesu di dekade ini, tapi bukan berarti akan lesu selamanya. Saham kalah dari emas di dekade ini, tapi sejarah mencatat saham sering menang di dekade lainnya. Jangan mengejar kinerja masa lalu (chasing performance).
Pajak Itu Signifikan: Perbedaan pajak SBN (10%) dan Deposito (20%) menciptakan selisih hasil yang besar dalam efek bunga berbunga (compounding) selama 10 tahun. Selalu perhitungkan net return.
Kesalahan Umum Membaca Data Ini
Sebelum Anda menutup artikel ini dan memindahkan semua uang Anda ke Emas, hati-hati terhadap bias berikut:
Survivorship Bias: Data saham menggunakan IHSG. Jika Anda salah pilih saham (misal beli saham gorengan yang kini disuspend), uang Anda bisa jadi Rp0. Sebaliknya, jika Anda beli BBCA di 2016, uang Anda mungkin jadi Rp40 juta (mengalahkan emas). Keterampilan memilih sangat menentukan di saham.
Masalah Likuiditas: Emas dan Saham mudah dijual. Properti? Anda bisa butuh waktu berbulan-bulan untuk mencairkannya menjadi uang tunai.
Titik Masuk (Entry Point): Analisis ini mulai dari 2016 (saat emas relatif rendah). Jika Anda mulai investasi Emas di puncak harga 2020 lalu menjualnya di 2021, Anda rugi. Time horizon (jangka waktu) adalah segalanya.
Berdasarkan data 2016–2025, Emas adalah juara bertahan untuk kategori risiko moderat dengan imbal hasil tinggi, didorong oleh kondisi makroekonomi global yang tidak stabil. SBN Ritel adalah juara untuk kategori pendapatan tetap (fixed income) yang mengalahkan deposito. Sementara Saham, meskipun secara indeks kalah dari emas, tetap menawarkan peluang pertumbuhan kekayaan tertinggi bagi mereka yang bersedia melakukan riset mendalam (stock picking).
Cek portofolio Anda saat ini. Apakah Anda masih terlalu banyak menyimpan dana di Deposito? Pertimbangkan untuk mulai mengalokasikan sebagian ke SBN Ritel atau Emas untuk menjaga daya beli, dan pelajari fundamental saham untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih agresif.
Investasi terbaik bukanlah yang memberikan return tertinggi di masa lalu, melainkan yang paling sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda di masa depan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan berbasis data historis serta proyeksi. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Segala keputusan investasi menjadi tanggung jawab pribadi investor.
